Karena periode di antara Natal dan tahun baru saya selalu libur, saya selalu ingin memanfaatkannya untuk jalan-jalan. Tahun 2004 kami ke Barcelona, tahun 2003 kami ke London, dan kali ini ke Italy. Kami memilih Italy karena kami pikir, dengan letaknya yang lebih ke selatan, setidaknya, Italy tidak akan lebih dingin daripada belanda.
Kami berangkat pas hari Natal. Dari Schiphol, kami terbang ke Pisa, kemudian naik kereta ke Florence. Kami tidak ke mana2 hari itu, soalnya mesti menunggu sisa rombongan yang berangkat dari Belgia. Malam itu, kami cuma keluar untuk cari makan. Untungnya di dekat hotel ada tempat makan. Padahal letaknya tidak di pusat kota, dan tempatnya agak gelap.
Hari pertama (26 Desember)
Hari pertama kami habiskan dengan jalan2 di Florence dan sore harinya kami singgah ke Pisa sebelum menuju ke hotel di sub-urb Sienna. Di Florence kami masuk ke Accademia, galery yang menyimpan barang2 seni untuk bahan studi murid2 akademi seni. Museum ini sudah berdiri sejak tiga empat abad yang lalu. Tidak tahu apakah sekarang ini akademi seni itu masih ada atau tidak. Di situ disimpan salah satu karya Michelangelo yang paling terkenal, Patung David, yang tingginya se bangunan dua-tiga tingkat.
Dari Accademia, kami berjalan ke katedral Florence, Duomo (dalam bahasa Inggris: the Dome). Kami tidak masuk, soalnya gereja itu baru buka sore hari. Seperti yang bisa dilihat di foto, gereja ini cakep sekali, dinding marmer, banyak ornamen, kubah besar yang konstruksinya untuk jaman itu termasuk rumit. Dari Duomo kami jalan2 di daerah pertokoan Florence, melihat2 butik2 bagus seperti Gucci, Cartier, Prada. Ada barang yang harganya 10k EUR!
Dari daerah pertokoan itu kami menyeberangi sungai Arno, sungai yang membelah Florence. Dari jembatan yang kami seberangi, kami memfoto jembatan paling terkenal di Florence, Ponte Vecchio. Jembatan ini kiri-kanannya dipenuhi dengan toko2 perhiasan. Jembatan ini sudah tua sekali, berdiri sejak jaman romawi.
Toko2 bertingkat itu dibangun, direnovasi dan dibuat jadi toko2 perhiasan (tadinya pasarnya tukang daging) pada abad ke 16. Di atas toko2 itu ada koridor yang menghubungkan Uffizi dg Palazo Pitti. Bangunan Uffizi (berarti the office) di bagian bawahnya digunakan untuk kantor pemerintahan sementara atasnya digunakan sebagai galeri seni keluarga Medici. Ceritanya waktu gedung itu dibangun (atas biaya keluarga Medici), keluarga Medici yang punya pengaruh besar di pemerintahan Florence ingin punya akses langsung ke gedung tersebut dari rumah mereka, Palazo Pitti. Karena itu dibangun koridor tersembunyi ini.
Tujuan kami berikutnya adalah Palazo Pitti. Istana ini sangat besar, saking besarnya kami memutuskan untuk tidak masuk, soalnya banyak yang bisa dilihat di situ dan kami tidak punya cukup waktu. Akhirnya kami ke situ cuma untuk melihat arsitektur luarnya (yang tidak bagus). Dari Palazzo Pitti itu kami menyeberangi Arno, kali ini melalui Ponte Vecchio. Dari jembatan itu, kami belok kanan, berjalan menyusuri sungai sekitar seratus meter, dan ketemu Uffizi. Kami tidak masuk ke dalam bangunannya yang berbentuk U, kami cuma melewati jalan pemisah antara kedua sayap bangunan tersebut. Di kiri kanan jalan itu terdapat patung2 orang2 penting Florence di jaman Rennaisance, seperti, Leonardo da Vinci, Machiavelli. Saya sebelumnya sudah melihat kebanyakan model2 plaster patung2 itu yang disimpan di Accademia.
Jalan yang memisahkan kedua sayap Uffizi membawa kami ke “the square of Florence”, Piazza della Signoria. Di salah satu sisi square tersebut berdiri Palazzo Vecchio, bekas istana keluarga Medicci yang sekarang digunakan sebagai balai kota. Di seberang bangunan ini berdiri sebuah teras/beranda, di mana berdiri banyak patung2 dari jaman Romawi. Patung David, sebelum dipindah ke Accademia, berdiri di samping pintu masuk Palazzo Vecchio. Di salah satu sisi Palazzo Vecchio, berdiri air mancur Neptunus.
Dari Piazza della Signoria, kami pergi mengambil mobil sewaan, dan sesudahnya kami ke bukit di seberang sungai. Dari puncak bukit itu, kami menikmati pemandangan ‘birdview’ pusat kota Florence. Bagus sekali.
Setelah puas menikmati pusat kota Florence berselimut kabut tipis, kami menuju ke Pisa. Atraksi di Pisa yang ngetop hanya ada di Piazza di Miracoli (The square of Miracle) di mana berdiri menara miring Pisa. Saya sebetulnya ingin naik menara itu, tapi selain karena harga tiket masuknya mahal (15 EUR), kami juga harus menunggu sampai jam lima sore untuk naik ke situ (ada pembatasan jumlah orang yang boleh berada dalam menara itu dalam waktu yang bersamaan).
Akhirnya kami meninggalkan Pisa menuju Siena. Pertama2 kami menyusuri pesisir Tuscana (Pisa itu dekat sekali dengan laut), kemudian, karena Siena terletak di "pedalaman"nya Tuscana yang berbukit2, kami melalui jalan2 yang naik turun, dan akhirnya setelah sempat tersasar kiri kanan, akhirnya kami berhasil menemukan hotel tujuan kami. Malam itu kami makan malam di Siena. Kami makan malam di restoran (sebetulnya wine bar) yang cukup fancy. Porsi makanannya kecil2. Walaupun begitu, saya cukup puas dengan pilihan saya (babi dimasak ala Tuscana).
Hari kedua (27 Desember)
Pagi itu kami bukannya langsung menuju ke Siena, malah bergerak ke utara (lagi), ke La Castellina in Chianti, desa yang berada di jantung Chianti. Chianti adalah area yang terkenal dengan produksi anggur merahnya. Sayangnya, karena sedang masa musim dingin, tanaman anggur semuanya tidak berdaun, jadi kami tidak dapat menikmati pemandangan lading anggur yang sangat khas dari daerah ini. Tapi perbukitannya masih bagus, dengan bangunan2 pertanian di sana sini, sangat khas. Karena Castelinna itu kecil, kami tidak memerlukan banyak waktu untuk melihat2 pusat desanya. Kami akhirnya masuk ke sebuah toko anggur. Di situ kami mencoba2 dan beli anggur. Kami juga membeli barang2 kerajinan dari tanah liat. Kami sempat ke ruang bawah tanah toko itu, melihat drum2 besar tempat penyimpanan anggur.
Dari Castelinna, kami menuju ke Siena. Ternyata Siena hari itu dingin banget, lebih dingin daripada Castelinna. Pusat kota Siena merupakan salah satu “World Heritage” yang ditetapkan oleh UNESCO (pusat kota Florence dan Napoli juga ).
Pusat kotanya cukup besar, dan kebanyakan bebas kendaraan bermotor, atau terbatas untuk penduduk lokal. Jalan2nya pada umumnya cuma muat satu mobil saja. Bangunan2nya pada umumnya tinggi2, berlantai empat atau lima. Sayangnya rata2 berwarna bata, jadi kurang bagus untuk difoto. Square utamanya, Piazza de Campo (sering disebut Campo saja), punya bentuk yang unik. Tempat itu dijadikan arena balap kuda pada saat festival Siena di musim panas. “Square” itu tidak rata, agak miring. Kami makan siang di situ, di fastfood italy “Ciao”, makan makanan Italy, murah lo, dan cukup enak. Kami juga sempat makan ice cream (padahal lagi dingin2nya).
Setelah lama di Campo kami pergi ke Duomo-nya Siena. Sayang sekali, bagian luar gereja itu sebagian sedang direnovasi. Jadi kami tidak bisa menikmati keindahan gereja itu dari luar. Kami memutuskan untuk masuk ke dalam gereja tersebut. Gereja ini sangat besar dan megah. Yang unik dari gereja ini, yang saya masih ingat dari kunjungan pertama saya ke tempat ini, adalah dindingnya yang dihiasi dengan deretan kepala2 para paus dan orang2 suci gereja. Interior gereja ini banyak bermain dengan perspektif. Banyak dinding yang dilukis, misalnya dilukis menyerupai panel2. Hebatnya, lukisan2 itu begitu nyata, sehingga saya perlu memperhatikannya dengan seksama untuk meyakinkan diri saya bahwa itu memang benar dinding yang dilukis. Ada satu ruangan yang sangat unik di dalam gereja tersebut. Dindingnya penuh dengan lukisan peristiwa2 penting yang berhubungan dengan paus2 tertentu, bagus sekali.
Dari Siena kami menuju ke Roma, ke hotel tempat kami menginap malam itu. Lagi2 kami tersasar, tapi tidak separah pengalaman tersasar yang berikutnya di Napoli. Malam itu dari hotel kami naik shuttle bus ke station metro terdekat, kemudian naik metro ke pusat kota. Kami makan di Hard Rock Cafe malem itu. Enak juga, dan ternyata lebih murah daripada makan malam di Siena.
Hari ketiga (28 Desember)
Tujuan pertama kami adalah Vatican, soalnya kami punya tiket untuk audisi dengan Paus. Iya, lagi2 audisi dengan Paus, paling tidak, dengan Paus yang berbeda. Ternyata audisinya tetap berlangsung di St.Peter Square, dan ternyata jumlah orang yang menghadiri audisi tersebut tidak kalah banyak dengan jumlah orang yang menghadiri audisi yang saya ikuti di musim panas tahun 2000 dulu. Bedanya, dulu panas bukan main, sekarang, brrr, dingin, berangin.
Paus Benedict naik mobil kecil seperti Paul Yoha
nnes Paulus dulu, dari satu sisi ke sisi lainnya, supaya semua orang bisa lihat dia dan melambai2 ke dia. Setelah keliling2, Paus akhirnya menuju ke podium dan duduk di situ, setelah itu acara dimulai. Seketika banyak org bergerak meninggalkan area audisi. Ternyata mereka ikut audisi cuma untuk
lihat Paus. Tapi memang audisinya tidak banyak kesannya. Seperti dulu, isinya, pemberitaan tentang rombongan2 peziarah beserta tempat asalnya dalam bahasa masing2, dan tiap kali, rombongan bersangkutan akan bersorak. Kemudian Paus akan memberi salam ke rombongan2 itu, dalam bahasa bersangkutan (Inggris, spanyol, dll). Setelah selesai, semua diajak berdoa Bapa Kami bersama (dlm bhs latin), kemudian bubar.
Setelah selesai audisi dan mengirim kartu pos dari kantor pos vatican (yang ternyata tidak sampai ke tempat tujuan) kami sebetulnya mau melihat Basilika Santo Petrus atau Museum Vatican. Wah, ternyata antriannya panjang sekali. Antrian buat Museum Vatican ternyata lebih panjang lagi. Ujung antriannya dekat jalan menuju ke St.Peter’s square, padahal pintu masuk museumnya sendiri mungkin masih lebih dari 3 km jauhnya. Akhirnya kami memutuskan untuk ke tempat lain saja.
Kami ke Kastil Malaikat (Castel Sant’Angelo). Kalau sudah baca Angels & Demons pasti tahu kastil ini. Kastil ini berjarak sekitar 1-2 km dari Vatican. Dulunya merupakan milik Vatican. Kami cuma melihat2 luarnya. Sempat juga memotret Basilika Santo Petrus dari kejauhan. Di seberang kastil itu ada jembatan, jembatan malaikat namanya. Jembatan ini melintang di atas sungai Tiber, dan di kiri kanannya ada patung2 malaikat karya Bernini (ini juga muncul di Angels & Demons). Jembatan ini mestinya bagus, cuma sayangnya sedang ada pasar kalender, postcard dll di situ, jadi jembatannya dipenuhi dengan tenda2.
Setelah menyeberangi jembatan itu kami menuju ke Piazza Navona, tapi karena sempat tersesat dan kelaparan dan kedinginan dan adanya panggilan alam, akhirnya kami berhenti dulu di sebuah restoran untuk makan siang dan ke toilet. Saya makan penne carbonara kalo tidak salah. Asin, sama seperti makanan kemarin2.
Piazza Navona adalah sebuah lapangan yang berbentuk lonjong. Di jaman romawi
lapangan ini merupakan amphitheater. Yang terkenal dari square ini adalah tiga air mancurnya, terutama airmancur yang di tengah, airmancur 4 sungai, karya Bernini. Di tengah air mancur itu berdiri Obelisk yang menjulang tinggi, di atasnya ada burung merpati. Komentarnya Irwan, wah masak si Robert Langdon bisa memanjat Obelisk setinggi itu untuk melihat arah yang ditunjuk patung burung merpati yang bertengger di atas Obelisk tersebut. Sedang ada pasar di Piazza ketika kami berkunjung ke situ. Dulu teman saya yang dari Roma pernah cerita bahwa, waktu advent dan Natal, Piazza ini berubah menjadi pasar hiasan kandang Natal. Kami masih melihat kios2 yang berjualan kandang2 Natal dan patung2 isinya. Juga banyak orang yang menjual kantong2 berbentuk kaos kaki, tapi tidak ada yang menjual boneka santa claus atau reindeer. Ternyata di Italy, memang tidak ada santa claus, yang ada nenek2 naik sapu yang membagikan hadiah buat anak2. Hadiahnya didrop di kaos kaki, sama seperti halnya Santa Claus.
Dari Piazza Navona, kami berjalan ke Pantheon yang tidak jauh dari situ. Kami melihat makam Rafael (pelukis jaman Rennaissance) dan raja2 Italy. Pantheon merupakan suatu bangunan kuno dari jaman romawi. Sekarang bangunan ini menjadi gereja dan makam org2 terkenal Italy. Gerejanya sendiri masih digunakan untuk misa. Ada area yang dipagar khusus untuk itu.
Dari Pantheon kami berjalan kaki ke Piazza Venezia lewat jalan yang penuh dengan toko2 pakaian. Piazza Venezia itu punya landmark, yakni monumen Vittorio Emmanuele, yang dijuluki wedding cake atau typewriter, dan merupakan salah satu landmark dunia yang sering muncul di iklan2nya CNN. Di situ sebetulnya ada Palazzo Venezia juga, tapi terus terang saking semrawutnya lalulintas dan karena bangunannya sendiri kurang unik, saya tidak tahu bangunan yang mana yang merupakan Palazzo itu.
Di dekatnya monument itu, ada tempat bernama Campidoglio. Tempat ini terletak di atas bukit Capitoline, yang dulunya merupakan pusat kegiatan dan pemerintahan kota Roma. Dari jalan yang kami lewati dari monument Vittorio
Emmanuele, kami mesti naik tangga, yang namanya Cordonata. Tangganya megah, rancangan Michelangelo. Di ujung tangga (di bagian atas bukit) ada dua patung yang sepertinya menjaga pintu masuk halaman Campidoglio. Di tengah halaman itu (Piazza del Campidoglio) ada tiruannya patung perunggu Marcus Aurelius. Ada tiga bangunan yang mengelilingi piazza ini, satu berseberangan dengan Cordonata. Di kiri kanan bangunan ini ada dua bangunan lagi yang digunakan sebagai museum archeologi yang menyimpan koleksi barang2 jaman Romawi. Bangunan di tengah ini (Palazzo Senatore) dibangun di atas bangunan Romawi kuno. Di belakang Palazzo ini, terbentang di kaki Capitoline hill, archeological site yang (menurut saya) paling bagus di Roma: Roman Forum.
Setelah memotret dari sebelah kiri dan kanan Palazzo itu, kami turun ke Forum, pusat kehidupan Roma di jaman Romawi dulu. Sebetulnya tidak banyak yang bisa bener2 dikenali di situs ini. Ada beberapa kuil yang tinggal tiang2nya, ada dua gerbang yang masih utuh dan berdiri kokoh, satu di ujung dekat Capitoline hill, satu di ujung dekat Colosseum. Tapi tetap saja bagus menurut saya, terutama buat foto2. Kami sempat bertemu guided tour bahasa Inggris gratis (dari pengelola site ini), sayangnya tournya hampir selesai (kami masuk ke area itu menjelang jam tutup, 15.30!). Walaupun begitu, tetap kami ikuti. Selesai mengikuti tour singkat itu, kami menyusuri Via Sacra, jalan utama Forum menuju ke jalan keluar/masuk di ujung satunya. Di situ ada lagi gerbang (arch) yang lain, yang lebih besar dan megah, Arch Constantine. Di seberang pintu masuk, berdiri Colosseum. Kami tidak masuk, malah naik bus untuk kembali ke Basilika Santo Petrus. Waktu akan naik bus, tahu2 hujan es. Banyak sekali orang2 yang berdesak2an untuk masuk ke bus, gara2 hujan es juga kelihatannya. Di sepanjang rute yang kami lewati, walaupun bus sudah penuh, orang2 tetap saja berjubel2 masuk, bener2 tidak kalah dengan bus kota di Jakarta. Memang sedang jam pulang kantor.
Ada pengalaman unik tidak terlupakan ketika sedang dalam bus. Di satu tempat, dekat Piazza Venezia, kami melihat sebuah motor berhenti di tengah jalan, lalu ada seorang polisi menghampiri pengendara mobil tersebut. Bukannya menegur si pengendara karena berhenti seenaknya di tengah jalan, sang polisi malah sun pipi kiri kanan dengan si pengendara motor, dan mereka sempat mengobrol singkat setelah itu, di tengah jalan!! Memang orang2 Italy itu seenaknya sendiri.
Waktu kami sampai di Piazza Santo Petrus, hari sudah gelap (di Italy hari menjadi gelap lebih cepat, karena letak Italy yang lebih ke arah timur). Ternyata kami masih harus mengantri juga, terutama karena adanya pemeriksaan keamanan. Ketika kami masuk, di dalam basilika, sedang ada misa.
Yang menarik dari basilika kali ini adalah pintu paling kanan basilika, "pintu gerbang millenium". Gerbang ini di tahun 2000 dibuka (dan gerbang ini kalau tidak salah hanya dibuka setiap millenium). Sekarang gerbang ini bener2 diblok dari dalam. Ada dinding semen di depannya. Karena udah sore, Basilika sudah agak sepi. Karena itu, saya punya kesempatan untuk meliat Pieta karya Michelangelo dengan lebih seksama. Irwan terkagum2 dengan interior gereja ini. Memang dari segi ukuran gereja ini luarbiasa. Banyak patung2 besar, semuanya terbuat dari marmer, buatannya sangat bagus. Namun dari segi warna, gereja ini tidak seramai gereja2 di Tuscana. Di sini hampir semuanya terbuat dari marmer, jadi dominan warna abu2. Karena hari sudah sore, kami tidak bisa ke ruang bawah tanah basilika tempat pemakaman para paus, tidak bisa naik ke cupola (kubah), juga interiornya basilika tidak sepenuhnya diterangi. Jadi detail2 yang tinggi2 kebanyakan tidak kelihatan.
Dari Basilika, kami mampir minum coklat panas di sebuah restoran di dekat Vatican. Ini ternyata menjadi coklat panas paling mahal: 5 EUR per gelas. Dan coklat panas yang sama: yang kental dan liat (soalnya dicampur dengan tepung terigu, memang begitu cara orang Itali minum coklat). Belakangan kami baru tahu kalau harga minuman dan makanan yang dikonsumsi di kursi2 tempat makan ternyata lebih mahal.
Tujuan kami berikutnya adalah The Spanish Steps. Tempat ini sebetulnya cuma tangga. Di ujung atas tangga itu ada gereja dan di kaki tangga ada air mancur besar. Tempat ini dari dulu ngetop sebagai tempat "to see and to be seen" nya Roma. Sampai di sana, ternyata gereja di ujung atas tangga sedang diperbaiki. Tangganya sendiri tidak ada apa2nya. Tapi tangga dan area di sekitarnya relatif ramai. Karena kami tidak berniat naik tangga tersebut, kami bergerak menuju tujuan berikutnya: The Trevi fountain. Tapi pertama2 kami menyusuri jalan di seberang the spanish step: Via Condotti. Jalan ini isinya butik2 dan memang terkenal sebagai tempat high class shopping.
Saya lagi2 mengunjungi Trevi fountain di malam hari. Tapi bedanya kali ini tidak seramai dulu. Irwan dan Yen Pi (sepupunya Ming) melempar koin juga, soalnya saya dan Ming bilang, konon orang2 yang melempar koin ke dalam kolam air mancur ini sambil membelakanginya akan kembali lagi ke tempat ini. Buktinya, lima tahun lalu saya dan Ming ikut2an melempar koin, dan sekarang kami kembali lagi ke tempat ini.
Dari Trevi fountain, kami bergerak kembali ke hotel, dengan mampir di stasiun Termini (stasiun kereta) untuk makan malam. Malam ini kami makan fastfood modern, yang mencampur adukkan makanan asia dengan makanan barat.
Hari keempat (29 Desember)
Kami keluar dari hotel sekitar jam 8 dan sampai di stasiun metro dekat museum vatican sekitar 8.45 (jam buka museum). Ternyata antrean museum sudah panjang, sudah mendekati pintu masuk ke piazza santo petrus. Bingung juga, kenapa orang2 sekarang ini senang ke museum, mungkin karena semuanya tertarik melihat The sistine chapel. Pengunjung2nya banyak yang berombomgan naik touring bus. Akhirnya karena malas mengantri lama, kami memutuskan untuk tidak ke museum itu.
Kami mengalihkan tujuan ke Piazza Popolo. Kami mengunjungi basilika di piazza itu. Nah, gereja ini juga muncul di Angels and Demons. Yang menarik dari gereja ini, gereja ini bukan termasuk tujuan utama, tapi gereja ini sebetulnya tidak kalah bagus dengan gereja2 terkenal lainnya. Ada banyak lukisan2 (dua di antaranya karya Caravaggio) dan patung2 terkenal di situ, misalnya patung nabi Habakuk karya Bernini, seperti yang diceritakan di Angels & Demons. Pagi itu hujan dan dingin, jadi kami sempatkan untuk minum kopi (capucinno, sudah kapok minum coklat panas yang seperti lem itu) di kafe dekat gereja itu. Kali ini tidak ada yang berani duduk, jadi capuccinonya cuma 90 ct.
Dari Piazza Popolo kami pergi ke Colosseum, masuk ke dalamnya dan ikut guided tour. Lumayan, jadi lebih mengerti sejarahnya. Tapi sebetulnya tanpa ikut guided tour pun, kami bisa juga mengerti sejarahnya karena di beberapa tempat ada papan penjelasan. Colosseum dibangun di atas kolam istananya Nero (Domus Aurea, dekat dengan Colosseum) dan dipakai buat circus, seperti di film Gladiator.
Dari Colosseum kami menuju ke stasiun termini buat makan siang. Kali ini tidak mau nyoba yang aneh2, kami makan di fastfood Ciao (seperti yang di Siena). Kami makan pasta, murah dan OK (walaupun sempat sakit perut setelah itu). Setelah itu kami ke Piazza della Republica buat liat opera house nya Roma. Waktu itu sedang hujan lebat2nya: dingin, basah, sangat tidak menyenangkan. Ternyata opera house nya sama sekali tidak worthwhile untuk dilihat.
Begitu petualangan kami di Roma. Setelah kehujanan dan kedinginan, kami kembali ke hotel, ambil mobil, dan berangkat ke Napoli. Beberapa km di selatan Roma, tahu2 hujan salju! Wah, cuaca jelek Italy kami alami semua!
Kami sampai di Napoli sekitar jam 5 sore. Lalu lintas di situ benar2 amburadul. Kami muter dua kali untuk ke hotel kami, dan tetap tidak ketemu. Setelah itu, kami baru sadar bahwa malam itu hotel kami ternyata di luar kota Napoli. Akhirnya kami ke luar kota lagi. Jalan menuju hotel di luar kota itu bener2 mengingatkan saya pada jalan Daan Mogot. Badan jalannya berlubang di sana sini. Karena habis hujan, airnya nyemprot kiri kanan kalo dilewati mobil. Kiri kanan jalan terdapat bangunan2 rendah, kebanyakan berlantai dua, banyak yang dibuat tempat makan, tapi modest banget, seperti kwe tiau a ciap di daan mogot, semi permanent, tidak keren sama sekali. Hotelnya sendiri lumayan OK, hotel resort, ada golf course segala. Tapi kami ke situ cuma untuk menginap, jadi kami sama sekali tidak menikmati fasilitas2 itu.
Setelah check-in di hotel, kami kembali ke Napoli lagi, tepatnya ke Pozoulli, sub-urbnya Napoli, sebuah kota pelabuhan kecil. Katanya kalo ingin makan sea-food, di situ tempatnya. Kami tidak berhasil menemukan pusat kotanya. Akhirnya kami berhenti di suatu tempat di pinggiran kota itu, dan atas saran pemilik sebuah toko (yang ternyata pinter ngomong Inggris, aksen super Amerika lagi) kami makan malam di sebuah restoran di dekat situ. Saya makan ikan grill Dorado. Kurang special sebetulnya, tapi tetap bersyukur, karena perut terisi, dan dapat kalender dari restaurant itu, yang menampilkan foto2 Napoli di awal abad dua puluh.
Hari kelima (30 Desember)
Kami ke Pompei! Pagi itu cuaca cukup menyenangkan. Tetap agak dingin, tapi tidak hujan dan agak cerah. Sebelum masuk situs arkeologi pompei, kami sempat sarapan pagi di depot kecil di kota pompei, makan roti goreng dan minum capuccino, lagi2 tidak berani duduk, takut kaget lagi.
Situs arkeologi pompei benar2 besar. Rata2 bangunan masih ada tembok2nya, tapi kebanyakan sudah tidak beratap. Benar2 satu desa terkubur. Struktur jalan masih terlihat jelas. Di jalan utamanya, kami masih bisa mengenali struktur toko makanan, ada tembok rendah di depan toko, yang kemungkinan untuk jualan makanan. Di beberapa bangunan masih ada sedikit fresco tersisa. Di kompleks pusat desanya ada kuil2. Hanya tembok dan pilar2 yang tersisa. Oya, kami juga mengunjungi tiga amphitheater di situ. Yang besar kemungkinan dipakai buat atraksi2 lomba kuda atau pertandingan gladiator. Yang kecil2 buat pertunjukan theater atau
musik. Di dekat kuil2 di pusat desa, ada bangunan menyerupai workshop yang menyimpan kendi2, peralatan rumah tangga dari tanah liat. Di situ juga ada mayat2 orang2 yang seluruhnya terbungkus lava, beku, membatu, dalam berbagai posisi: duduk, tidur, dll. Desa ini mestinya desa yang bagus. Terletak di kaki gunung Vesuvius, agak tinggi, tapi dekat dengan laut. Jadi tanahnya berkontour. Pas hari cerah, laut dan gunung Vesuvius keliatan. Bagus mestinya.
Kami menghabiskan waktu sekitar 4 jam di situs pompei. Sebelum meninggalkan situs itu, kami pergi ke sebuah vila di luar desa pompei, namanya Villa dei Misteri. Villanya besar, ruangan2nya masih utuh, juga atapnya. Arsitektur villa itu cukup unik sih, banyak ruangan2, mestinya menyenangkan tinggal di situ. Beberapa daun pintu dan jendela kayu juga masih ada, tapi semuanya sudah membatu. Di villa itu ada satu ruangan yang lukisan dindingnya masih tersisa. Sayangnya, yah, cuma satu ruangan itu saja.
Setelah menghabiskan waktu lama di desa kuno pompei dan kecapean jalan kaki, karena ukuran situs yang sangat besar, kami kembali ke kota pompei, beli makan siang, dan makan es krim setelah itu. Kami punya tiga pilihan setelah itu: menyusuri tanjung di mana ada sorrento, Positano, Amalfi, yang katanya cakep s
ekali, naik ke gunung vesuvius, atau kembali ke Napoli, dan jalan2 di pusat kota. Karena cuaca kurang bagus, takut tidak cukup waktu sebelum gelap, dan juga karena salah ambil jalan, akhirnya kami tidak jadi menyusuri tanjung sorrento itu. Sebagai gantinya, kami naik ke gunung vesuvius. Naik mobil, tidak jalan kaki, kok. Dari lereng gunung itu, kami bisa melihat kota Napoli, besar sekali, dan sebetulnya bagus. Soalnya kota itu bertempat di teluk yang berbukit, dan garis pantainya juga agak berkelok2. Seperti Rio de Janeiro (tahu dari postcard). Semakin tinggi kami naik, semakin sempit jalannya. Pada suatu ketinggian, tahu2 tanahnya bersalju. Banyak orang naik ke gunung waktu itu, khusus untuk bermain salju. Senang sekali
orang2 itu. Yang menyebalkan, mereka berhenti dan parkir mobil seenaknya, padahal jalannya kecil. Kami sempat lempar2an salju pas berhenti. Kami tidak berhasil mencapai puncak. Mobil kami tidak kuat. Jalannya terlalu licin, jadi slip trus. Untungnya, kami masih bisa putar balik dan bisa turun lagi dengan selamat. Ternyata tidak hanya mobil kami yang tidak bisa naik lebih jauh. Ada satu mobil yang berhenti untuk pasang rantai roda. Kami tidak punya itu.
Setelah deg2an di Vesuvius, kami kembali ke Napoli. Tujuan pertama adalah hotel untuk check in. Hotel kami di area perkantoran, agak susah nemunya. Putar dua kali baru ketemu. Dari hotel sebetulnya ada shuttle minibus hotel untuk ke pusat kota, tapi kapasitasnya kecil, frekuensinya tiap jam, dan orang2 yang mau pakai banyak. Akhirnya kami putuskan untuk jalan kaki ke pusat kota. Sudah gelap waktu itu, gerimis lagi. Ternyata pusat kotanya jauh! Dari hotel kami jalan ke stasiun dulu, dan dari situ jalan ke pusat kotanya. Dari hotel ke stasiun, jalan2nya agak gelap dan sepi. Tidak kenapa2 sih, cuma tidak enak saja. Di depan stasiun kereta ada terminal bus, yang dikelilingi oleh jalan (jd di tengah2). Di pinggir2 jalan banyak pedagang kaki lima, yang menawarkan barang2 ke orang2 yang lewat. Jalan2nya ramai, semrawut, banyak yang membunyikan klakson. Bener2 seperti kembali ke Jakarta lagi, di tanah abang. Dari stasiun kami melintasi terminal bus menuju salah satu jalan yang berawal di area semrawut itu. Masih juga hujan. Jalan itu banyak toko2nya. Ramai, dan banyak pedagang kaki lima di trotoar yang berukuran biasa. Trotoarnya rame, banyak orang yang lewat, dan banyak juga orang yang tertarik dg dagangan kaki lima, dan berhenti di trotoar, melihat2 barang, dan memblok trotoar! Saya cuma bisa geleng2. Kami takut terpisah karena keramaian, dan juga mesti hati2, soalnya Napoli terkenal banyak copetnya. Bangunan2 di jalan yang kami lewati itu sebetulnya cukup klasik, seperti bangunan2 di Paris. Sayangnya kotor2, hitam2 kena polusi. Karena dingin, ramai, dan cape, kami berniat untuk mencari tempat makan dan duduk. Ternyata, kami tidak bisa langsung makan, soalnya belum jam tujuh malam, dan restoran2 baru pada buka jam tujuh malam. Akhirnya kami terpaksa jalan trus. Menjelang jam tujuh, kami melihat sebuah chinese restaurant, di sebelahnya ada fastfood pasta. Akhirnya kami memilih chinese restaurant itu, dan makan gede malam itu. Makanannya sebetulnya biasa saja, tidak special. Tapi berhubung kami lapar dan kedinginan, kami makan dengan lahap. Dipikir2 aneh juga, di Napoli, di ibukotanya pizza dan pasta, kami makan chinese food. Setelah kenyang, kami meneruskan jalan kaki, dan akhirnya kami sampai di balai kota, tempat naik shuttle minibus ke hotel. Di daerah itu, ada kastil, dan kalau kami berjalan sedikit lagi, kami sampai di pelabuhan Napoli. Yah, karena sudah malam, tidak banyak yang bisa dilihat. Lagipula, tempatnya semrawut, banyak centang2 (sedang dibangun metro), akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Kami tidak jalan kali ini. Kami naik bus sampai ke stasiun. Naik bus tanpa bayar, karena tidak tahu bagaimana cara bayarnya. Perasaan banyak juga orang yang tidak bayar. Karena sudah jam sembilan malam, banyak pedagang kaki lima pulang. Pada umumnya naik bus dan sepertinya tidak bayar juga. Busnya bau pesing. Dengan naik bus, kami sempat melihat beberapa tempat yang tidak kami lewati. Tapi karena sudah sebel sama kota yang semrawut, yang orang2nya seenaknya, sudah tidak berminat lagi. Dari stasiun, kami jalan kaki kembali ke hotel. Sempat ketemu mobil berhenti dg pantat menjorok ke badan jalan. Ternyata ada 2 orang di dalam mobil itu, lagi pelukan dan ciuman. Bener2 deh org Italy!
Hari keenam (31 Desember)
kami naik kereta setengah tujuh pagi dari stasiun, kembali ke Roma. Keretanya telat lima belas menit. Di sebuah stasiun di antara Roma dan Napoli, kereta berhenti sekitar satu jam. Tidak tahu kenapa. Pengumuman semua dalam bahasa Italy, kami tanya orang2 di gerbong, bahkan anak muda, semua tidak bisa bahasa Inggris, satu patah kata pun. Masalahnya, kami harus naik bus dari stasiun termini roma ke airport, dan bus yang mestinya kami ambil itu berangkat setengah jam setelah keretanya semestinya tiba. Untungnya kami masih bisa naik bus ke airport yang (seharusnya) berangkat sejam sesudahnya (busnya juga telat berangkatnya telat). Untungnya, kami tidak telat check-in. Dan masih ada waktu buat makan pagi. Ternyata pesawatnya telat juga, setengah - satu jam gitu.
Sampai di Eindhoven, lega rasanya. Cape sih perjalanan, apalagi di hari2 terakhir, mesti berurusan dengan banyak kesemrawutan, hujan, dingin, telat, bangun pagi. Eindhoven saljuan malam sebelumnya, kami masih melihat sisa2nya di airport.
Dipikir2, unik juga perjalanan kali ini. Bener2 mengalami Italy selatan, Napoli, yang memang terkenal barbar (teman2 kantor dari Italy pada memperingatkan untuk hati2 di situ, jalan2, ataupun pas bawa mobil, soalnya orang Napoli terkenal seenaknya di jalan). Beda dengan Italy di utaranya Roma, beda dengan Belanda yang serba teratur, sering kali tepat waktu. Seminggu setelah itu, di gereja kami ceritakan pengalaman kami ini. Ada anak Italy, berasal dari Bari, Itali selatan juga, cerita tentang macam2 cara penipuan di daerah mereka. Kami geleng2 mendengarnya. Daerah selatan Italy itu benar2 under-developed, banyak pengangguran, tingkat kriminalitas tinggi, makanya banyak penipuan2 dan pemalak2an. Saya sebetulnya tidak terlalu tertarik untuk ke Napoli. Saya mengusulkan ke Napoli karena saya ingin ke pompei, dan belakangan setelah tahu tentang Positano dan sekitarnya, ingin ke situ juga. Rasanya benar2 seperti kembali ke Jakarta, ke tempat2 semrawutnya.